Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

KURIKULUM NABAWI (1): PROPHETIC QUANTUM TEACHING

Aktivitas Pendidikan di masyarakat akan dipengaruhi oleh dasar pemikiran dan falsafah yang berkembang di masyarakat tersebut. Apakah itu masyarakat dengan paham atheisme, liberalisme dsb. Begitu juga dengan pendidikan Islam. Pendidikan Islam tumbuh dan berkembang atas dasar pemikiran dan falsafah Islam yang ada sejak diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari segala aspek dan sisinya adalah percontohan ideal dan paling sempurna tiada tandingannya bagi Muslimin secara khusus dan seluruh manusia secara umum tidak terkecuali sisi kehidupan beliau dalam melakukan pendidikan dan pembinaan umat Islam. 
Melihat kembali kehidupan Rasulullah sebagai jalan mewujudkan pendidikan Islam yang baik tidak berarti pemikiran ini mengikuti aliran rekonstruksionisme dalam filsafat pendidikan yang merujuk kembali tatanan nilai dan norma yang sudah ada yang terbukti berhasil mewujudkan kehidupan yang baik dengan menatanya kembali tanpa menolak pembaharuan-pembaharuan yang ada, termasuk pemikiran progresivisme. Pemikiran pendidikan Islam yang saya maksudkan di sini juga tidak berarti dengan kita akan sepakat dengan aliran perenialisme yang menolak segala sesuatu bentuk pemikiran yang bersifat baru. Tapi, melihat kembali kehidupan Rasulullah sebagai sebuah acuan dalam menjalankan pendidikan adalah sebuah keharusan dan pemikiran Islam yang paling ideal serta sempurna dari pemikiran pendidikan Islam secara khusus dan pemikiran pendidikan secara umum yang pernah ada. 

Sebagai Muslim, Bagaimana Sikap Kita Terhadap Hari Ibu?

22 Desember, bagi kita sebagai orang Indonesia tentu mengingatnya sebagai hari Ibu meskipun kita tahu sebagai Muslim bahwa berbakti kepada Ibu (dan Bapak) tidak harus di hari Ibu atau hari Bapak, karena berbakti kepada Ibu dan Bapak adalah kewajiban agama yang tak terelakkan hingga mereka sudah tiada sekalipun. 
Allah Ta’ala berfirman, 
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Luqman: 14) 
Ada yang menyebut “hari Ibu” sebagai sebuah bid’ah, bahkan sebuah kesesatan karena ajaran Islam tidak pernah mengenal “hari Ibu” sama sekali. Lantas sebagai seorang Muslim yang baik bagaimana kita menyikapi adanya hari Ibu? 

Back to Home Back to Top Iqbaliano Van de Bard. Theme ligneous by pure-essence.net. Bloggerized by Chica Blogger.